1. Peserta memahami makna Akhlaq
2. Peserta memahami pentingnya Akhlaq Islami
3. Peserta mengetahui faktor-faktor pembentuk Akhlaq
4. Peserta termotivasi merubah Akhlaq buruk menjadi Akhlaq yang baik dan Islami
METODE PENDEKATAN
§ Shiroh
§ Ceramah
URAIAN
Definisi Akhlaq
Berasal dari kata “Khuluq” yang berarti budi pekerti/karakter, kebiasaan dan perangai.
Secara terminologis;
Akhlaq adalah perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang atas kesadaran jiwa tanpa adanya berbagai pertimbangan, tanpa paksaan, spontan sehingga membentuk pribadi seseorang tersebut.
Posisi dalam akhlak islam
Tujuan risalah islam adalah kesempurnaan akhlaq
“aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq” (HR Bukhari)
Islam disebut sebagai Husnul Khuluq
Allah memuji Rasulnya dengan Akhlaq mulia (Al Qalam : 4)
Menunjukkan derajat keimanan seseorang
Akhlaq adalah buah ibadah (QS 29:45)
Akhlaq dasar seorang muslim (QS 5 :45, 55) meliputi :
1. Mencintai Allah, Allah pun cinta padanya
2. Lemah lembut pada sesama muslim
3. Keras dan tegas terhadap orang kafir
4. Berjihad di jalan Allah
5. Tidak takut celaan orang yang yang suka mencela
6. Memberikan loyalitas sepenuhnya kepada Allah, Rasul dan mukminin
Islam mengutamakan akhlaq
Tauhid sebagai initi ajaran islam mempunyai ajaran islam mempunyai hubungan yang erat dengan akhlaq. Tauhid merupakan realisasi akhlaq seorang hamba Allah terhadap Allah Azza wa jalla. Akhlaq merupakan tolok ukur kesempurnaan iman seorang hamba, sebagaimana telah dikabarkan Rasulullah SAW : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang terbaik akhlaqnya” (HR tirmidzi dari Abu Hurairah diriwayatkan juga oleh Ahmad)
Dalam riwayat bukhari dan muslim “sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaqnya”
Akhlaq seorang pelajar muslim :
1. Dalam hal berpakaian
Bagi muslimah wajib menutup aurat (QS 24 :51 ; 33:59). Rapi, sopan, bersih dan sesuai syariat (baca : cara berpakaian pemuda muslim)
2. Dalam hal lisan
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah berkata baik atau diam”(HR Bukhari)
3. Dalam hal bepergian
“Hendaklah kalian menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan atau (jika kalian tidak melakukannya) niscaya Allah akan menggelapkan wajah-wajah kalian” (HR At Thabrani)
4. Dalam hal menjaga tangan dan kaki
“senantiasa mendahulukan bagian yang kanan dalam berpakaian, memakai sandal, menyisir rambut dan perbuatan baik”
5. Dalam hal pendengaran
QS Al Qashash : 55
6. Dalam hal penglihatan
“Tiga mata yang tidak akan dijilat api neraka : mata terpejam karena melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, Mata yang terjatga di jalan Allah, dan Mata yang menangis karena takut kepada Allah” (QS 17 : 104)
SIROH
Kisah Ashabul Kahfi
Sikap tegas menolak paksaan dari penguasa dzolim yang dilakukan oleh Raja Deqyanus memaksa para pemuda Ashabul Kahfi agar bersedia mengikuti aliran kepercayaan menyembah sesembahan selain Alloh SWT.
“Pada waktu mereka berdiri tegak (di hadapan raja yang dzolim) lalu mereka berkata: “Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyembah Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran (QS. Al Kahfi 18:14)
Kisah Ibrohim AS
Sikap kritis ditunjukkan Nabi Ibrohim AS terhadap adat yang terjadi secara turun temurun dari kaumnya. Seperti dikisahkan dalam Al Qur’an, Asy Syu’aro (26) :70-80 berikut (artinya):
“Ketika Ibrohim berkata kepada bapaknya dan kaumnya ‘Apakah yang kamu sembah?’”
Kemudian kaumnya menjawab dengan tegas, walaupun dari suatu keyakinan yang salah.
“Mereka (kaumnya) menjawab : ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa menyembahnya’”.
Dengan kritis
“Berkata Ibrohim, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a)mu sewaktu kamu berdo’a (kepadanya) ? Atau dapatkan mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudhorot ?’”
Ternyat dengan pertanyaan kritis seperti itu, mereka mengaku bahwa memang tidak ada pengetahuan atasnya.
“Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian’”.
Kemudian Ibrohim AS memberikan penjelasan
“Ibrohim berkata, ‘Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu terdahulu ? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Robb semesta alam’”.
Kemudian Ibrohim menerangkan fungsi Robb semesta alam tersebut dengan perkataan :
“(yaitu Robb) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, dan Robb-ku Dia-lah Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit Dia-lah yang menyembuhkan aku dan yang akan mematikanku kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Dia-lah Yang amat aku inginkan mengampuni kesalahanku pada hari qiyamah”
Begitulah sikap kritis yang ditunjukkan Nabi Ibrohim As yang beliau memberikan contoh untuk tidak menerima begitu saja kebiasaan (adat) yang terjadi di lingkungan sekitarnya apalagi menyangkut eksistensi Pencipta.
Kisah Ismail AS
Sikap ikhlas dan shobar yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrohim dan puteranya
Ibrohim berkata (artinya)
“Wahai anakku (Ismail) sesungguhnya aku lihat dalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu, maka fikirkanlah apa yang engkau putuskan ?”
Nabi Ismail AS dengan tho’at kepada Alloh SWT, shobar dan ikhlas menerima ujian dan tantangan hidup tidak ragu untuk memberikan keputusan
“Wahai bapakku! Kerjakanlah apa yang engkau perintahkan! Insya Allah akan engkau dapati aku termasuk orang-orang yang shobar”
Kisah Yusuf AS
Sikap tegas dan berani mengambil resiko seperti yang ditunjukan oleh Nabi Yusuf AS merupakan hal yang patut dicontoh, ketika ia menolak godaan dan rayuan dari Istri Raja Mesir, Siti Zulaikha padahal kesempatan itu ada di depannya. Dalam Al Qur’an Suroh Yusuf (32):12.
No comments:
Post a Comment