Khutbah
Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ،
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ
شَرْعِهِ، مَا تَرَكَ خَيْراً إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرّاً
إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى، فَإِنَّ فِي تَقْوَى
اللهِ جَلَّ وَعَلَا خَلْفاً مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَيْسَ مِنْ تَقْوَى اللهِ
خَلْفٌ. وَتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا: عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ
اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ
اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ .
Sesungguhnya kewajiban yang paling besar dan paling
penting untuk diperhatikan adalah memperbaiki keadaan hati. Menyucikannya dan
mendidiknya agar tunduk dalam beribadah kepada Allah ﷻ. Karena hati adalah raja bagi anggota tubuh lainnya.
Baiknya hati, akan berdampak pada kebaikan anggota tubuh lainnya. Demikian pula
jeleknya hati akan berdampak pada jeleknya amalan anggota tubuh yang lain.
Dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ
صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلاَ وَهِيَ
القَلْبُ
“Ketauhilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat
segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pulalah jasad tersebut. Jika ia jahat,
maka jahat pula jasad tersebut. Segumpal daging itu adalah hati.”
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Sesungguhnya Allah ﷻ tidak memandang bentuk fisik manusia. Dia juga tidak memandang harta
mereka. Akan tetapi yang Dia lihat adalah hati dan amalan mereka. Hati yang
paling mulia di sisi Allah adalah hati-hati yang bertakwa. Takwa itu tempatnya
di hati. Apabila hati dipenuhi dengan ketakwaan, maka anggota badan yang lain
akan berjalan dalam kebenaran.
Ayyuhal
mukminun ibadallah,
Perkara yang paling utama yang harus kita perhatikan
terkait hati kita adalah menjaganya dari segala yang membuat Allah marah dan
murka. Hal ini akan sangat terasa manfaatnya bagi seorang hamba pada hari
kiamat kelak. Hari dimana seorang hamba berdiri di hadapan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا
مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak
berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(QS: Asy-Syu’araa | Ayat: 89).
Qolbun salim, hati yang bersih adalah hati yang bersih
dari kesyirikan. Bersih dari segala hal yang membuat Allah murka. Bersih dari
kebid’ahan dan kemaksiatan. Dan hati yang bersih adalah hati yang penuh dengan
keikhlasan kepada Allah. Yakin kepada-Nya. Taat dan menerima perintah-Nya.
Cinta kepada-Nya. Mengagungkan-Nya dan syariat-Nya. Ketika hati memiliki sifat
demikian, maka ia dinamakan hati yang bersih atau hati yang selamat. Ia akan
sukses di hari kiamat kelak. Berhasil mendapatkan kedudukan yang tinggi di hari
perjumpaan dengan Allah ﷻ.
Karena itu
Nabi ﷺ berdoa kepada Allah ﷻ agar dikaruniai qolbun salim, hati yang bersih.
وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا
“Aku memohon
kepada-Mu hati yang bersih.”
Ayyuhal
mukminun,
Hati yang
bersih memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
Hati yang bersih adalah hati yang bergegas
meninggalkan dunia. Bersikap tegas terhadapnya. Tidak tertipu akan gemerlapnya.
Pandai mengetahui hakikatnya. Sadar bahwa dunia adalah negeri yang fana dan
akan sirna. Yakin bawah ia akan pergi meninggalkannya dan tidak kekal di
dalamnya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,
ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ
الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ
أَبْنَاءِ الآخِرَةِ وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ اليَوْمَ
عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ
“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan
mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat
dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari
beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat)
adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari).
Perhatian hati yang bersih hanya satu. Yaitu bagaimana
caranya mencari ridha Allah dan menjauhi hal-hal yang membuatnya murka.
Hati yang bersih adalah hati yang bersungguh-sungguh
dalam menjauhi kemaksiatan, dosa, kebid’ahan, dan perbuatan haram. Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat
baik.” (QS: Al-‘Ankabuut | Ayat: 69).
Hati yang bersih adalah hati yang sangat perhatian
terahdap kualitas amalan. Lebih perhatian dari jenis amalan itu sendiri. Ia
memperhatikan keikhlasannya. Kejujurannya kepada Allah ﷻ. Memperbaki hubungan dengan Allah. Merasakan anugerah
yang Allah berikan. Hati yang bersih akan membuat pemiliknya memperhatikan
kekurangannya dalam menaati Allah ﷻ.
Ayyuhal mukminun ibadallah,
Beginilah seharusnya seorang mukmin. Ia sangat
perhatian dengan hatinya. Beramal dengan ikhlas. Bersungguh-sungguh dalam
menyucikan dan memperbaiki hati. Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hal ini adalah:
اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ
خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, karuniakanlah kepada jiwaku ketakwaannya,
dan sucikanlah ia sebab Engkaulah satu-satunya yang bisa menyucikannya.
Engkaulah penolong dan tuhannya.”
Khotib memohon kepada Allah ﷻ agar memperbaiki keadaan hati-hati kita semua.
Memenuhinya dengan nilai-nilai ketaatan. Menunjuki kita semua kepada jalan yang
lurus. memperbaiki keadaan kita. Dan tidak menyerahkan diri kita kepada kita
sendiri walaupun hanya sekejap mata.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ
يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً
مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ
بِمَحَامِدِهِ الَّتِي هُوَ لَهَا أَهْلٌ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ الخَيْرَ كُلَّهُ
لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا
اللهَ تَعَالَى؛ وَرَاقِبُوْهُ سُبْحَانَهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ
رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ .
Ibadallah,
Dalam sebuah
hadits, Nabi ﷺ bersabda kepada Syaddad bi Aus radhiallahu
‘anhu:
إِذَا اكْتَنَزَ النَّاسُ الدَّنَانِيرَ وَالدَّرَاهِمَ
فَاكْتَنِزُوا هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتَ) : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ
فِي الأَمْرِ , وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ
رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ
عِبَادَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا ، وَأَسْأَلُكَ
مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ ،
وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ
“Jika orang menumpuk emas dan perak, maka perbanyaklah
bekal dengan kata-kata ini (yaitu dengan membaca) Ya Allah, aku memohon
keteguhan dalam menghadapi semua urusan dan tekad yang kuat dalam mencari
kebenaran. Aku memohon kepada-Mu untuk senantiasa mensyukuri nikmat-Mu. Aku
memohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang senantiasa jujur. Aku
memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau ketahui. Dan aku berlindung
kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun-Mu terhadap
segala kesalahan yang Engkau ketahui.”
Hadits ini mengumpulkan kebaikan dan keutamaan yang
banyak. Nabi ﷺ sangat menganjurkan dan menekankan
agar umatnya perhatian terhadap doa ini. Perhatian dalam arti mengamalkannya.
Karena di dalamnya terdapat tujuan yang agung. Mengamalkan doa ini, menunjukkan
pengamalnya sangat perhatian terhadap kebersihan dan kesucian hati dari segala
hal-hal yang buruk. Terutama kesyirikan. Keragu-raguan terhadap agama Allah.
Penjagaan diri terhdapa bid’ah dan kemaksiatan yang mengotori dan berbahaya
bagi hati.
Kita memohon kepada Allah ﷻ agar Dia senantiasa memperbaiki keadaan kita. Dan
tidak menyerahkan diri kita kepada kita sendiri. Walaupun hanya sekejap mata.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ،
وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ
الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى
مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ
فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
[الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ
صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرٍ الصِدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ
ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ
الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ
يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ
الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ
وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ
مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِراً وَمُعِيْنًا وَحَافِظاً وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ آمِنْ رَوْعَاتَهُمْ وَاسْتُرْ عَوْرَاتَهُمْ وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ
يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ
فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ
وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا
وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ
وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا
وَالمُسْلِمِيْنَ الفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَأَصْلِحْ لَنَا
شَأْنَنَا كُلَّهُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ .
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا
أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا
مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ
وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَأَنْ تَجْعَلَ كُلَّ
قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْراً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ
وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ
وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ
وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا إِنَّا
ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشُكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، {وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ } .
Diterjemahkan
dari khotbah Jumat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad
Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

No comments:
Post a Comment