Pernahkah anda mengalami suatu saat ketika
anda membuka mushaf dan anda mulai membaca al-qur’an kemudian anak-anak anda
datang mendekati anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal
yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan?,
Pernahkah anda mendapatkan Mutarabbi anda mengerjakan shaum sunnah padahal anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya ataau menginstruksikannya ?, hal tersebut dilakukan oleh Mutarabbi anda hanya karena ia mendapatkan anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah anda mengalami khadimat anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah?, padahal isteri anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-nur maupun Al-ahzab.
Pernahkah anda mendapatkan Mutarabbi anda mengerjakan shaum sunnah padahal anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya ataau menginstruksikannya ?, hal tersebut dilakukan oleh Mutarabbi anda hanya karena ia mendapatkan anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah anda mengalami khadimat anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah?, padahal isteri anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-nur maupun Al-ahzab.
Itulah buah dari keteladanan, ketealadaanan adalah cara berda’wah yang
paling hemat karena tidak menguras enerji dengan mengobral kata-kata, bahkan
bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan,
sebagaimaana adagium mengaatakan : “Lisaanul hal afshohu min lisaaanil
maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain
keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah
sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya ,
tegaknya dan lain sebagainya, sebagaimana pepatah mengataakan : “Kaifa
yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaaimana bayangan akan lurus bila
tonggaknya bengkok.
Oleh karena itu penting bagi kita para Murabiyyin untuk berusaha semaksimal
mungkin menjadi figur murabbi teladan, agar keteladanaan kita memberikan
keberkahan bagi perkembangan da’wah dan peningkatan kwalitas maupun kwantitas
para Mutarabbi yang kita bina . Untuk memudahkan kita mencontoh hal-hal yaang
baik yang sepatutnya disikapi oleh seoarang figur Murabbi, maka melalui makalah
ini kita akan berinteraksi dengan beeberapa tokoh yang tercatat sebagai figur
murabbi teladan dalam sejarah, dengan menampilkan “Suratun Hayawiyyah” atau
gambaran kehidupan mereka khusunya dalam melakukan aktifitas pentarbiyahan.
Secara runtut sesuai dengan urutan zamannya , kita akan mulai membahas
keteladanan figur murabbi dari “Murabbi hadzihil ummah”, yaitu Rosululloh SAW,
kemudian kita telusuri keteladanan figur murabbi para Sahaabatnya, para tabi’in
,ualam salaafusslaih hingga para Masayikh da’wah di zaman kita sekarang ini.
“Aina nahnu minhum”, kita sungguh tidak ada apa-apanya dibanding mereka bahkan
rasanya mustahil bisa sama dengan mereka, itulah satu perasaan yang akan
terlintas pada benak kita ketika kita mengetahui keteladaanaan mereeka sebagai
murabbi, akan tetapi kita dinasehati oleh satu pepatah : “Tasyabbahu in lam
takuunuu mislahum, Innattasyabbuha bil kiraami falaahun”, Teladanilah meski
tidak sama persis dengan mereka, sesungguhnya meneladanani oranorang mulia
adalah satu keberuntungan.
Keteladanan Rosululloh SAW
Sebagai Murobbi Rosululloh SAW selalu melakukan pendekatan komunikasi
sebagaimana yang telah direkomendasikan di dalam Al-Qur’an, bentuk-bentuk
komunikasi yang digunakan diantaranya adalah : “Qoulan Layyinan” ( 20 : 44 ),
“Qoulan Maysuran” ( 17 : 28 ), “Qoulan Ma’rufan” ( 32 : 32 ), “Qoulan Balighan”
( 4 : 63 ), “Qoulan sadidan” ( 4 : 9 ), dan “Qoulan kariman” ( 33 : 31 ).
Sebagai Murabbi Rosululloh SAW, tidak pernah memojokkan mutarabbi dengan
kata-kata , apalagi hal itu dilakukan di hadapan orang lain, sebagaimana
diriwayatkan oleh Abi Humaid Abdirrahman bin Sa’ad As-Sa’idy RA, Ia berkata :
“Nabi SAW telah mengutus seseorang yang bernama Ibnu Lutbiyyah sebagai amil
zakat, setelah selesai dari tugasnya lalu ia menghadap Rosululloh SAW seraya
berkata : “ini hasil dari tugas saya , saya serahkan kepada mu, dan yang ini
hadiah pemberian orang untuk saya”, lalu Rosululloh SAW segera naik ke atas
mimbar, setelah menyampaikan puja dan puji kehadirat Alloh SWT beliau
berkhutbah seraya berkata : “Sesungguhnya aku megutus seseorang di antaara
kalian sebagai amil zakat sebagaimaana yang telah diperintahkan oleh Alloh SWT
kepadaku, lalu ia datang dan berkata : “ini untuk engkau dan yang hadiah untukku,
jika orang itu benar , mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau Ibunya
sehingga hadiah tersebut datang kepadanya, demi Alloh tidaklah mengambil
seseorang sesuatu yang bukan haknya melainkan kelak dia bertemu dengan Alloh
SWT membawa barang yang bukan menjadi haknya “, lalu Rosululloh SAW mengangkat
keduabelah tangannya hingga tampak ketiaknya, seraya berkata : “Ya Alloh, telah
aku sampaikan” 3 x ( HR. Bukhari – Muslim )
Rosululloh juga tidak pernah menjaga jarak dengan mutarabbinya, sehingga
tidak terjadi kesenjangan psikologis antara mutarabbi dengan murabbi, hal ini
dapat dilihat dari gambaran dialog lepas antara Jabir bin Abdillah dengan
beliau sebagaimana yang telah diriwayatkaan sendiri olehnya : “Aku pernah
keluar bersama rosululloh SAW pada peperangan Dzatirriqo’, aku mengendarai
seekor onta yang lamban jalannya, sehingga aku tertinggal jauh dari rosululloh
SAW, kemudian Rosululloh SAW menemuiku seraya berkata : “ Kenapa engkau hai,
Jabir “ “Ontaku Ya Rosulalloh…,jalannya lamban sekali” balasku. Kemudian
Rosulluooh berkata lagi : “Berikan kepadaku tongkat yang ada di tanganmu atau
berikan aku sepotong kayu”, lalu aku berikan kepadanya dan beliaupun memukulkan
kayu tersebut secara perlahan ke onta saya, lalu beliau menyuruhku menaiki onta
itu, demi Alloh tiba-tiba ontaku berjalan dengan sangat cepat”. Kemudian
obrolan berlanjut , Rosululloh SAW bertanya kepadaku : “Hai Jabir, apakah
engkau sudah kawin?”, “sudah ya rosulalloh” jawabku, “dengan janda atau
gadis”?, tanya beliau lagi, “dengan janda ya Rosul” tegasku, “Kenapa tidak
dengan gadis saja sehingga engkau dapat “bersenang-senang dengannya” dan ia
dapat “bersenag-senag denganmu”?, balas Rosululloh SAW dengan nada bertanya,
lalu aku menjelaskan : “Ya Rasululloh sesungguhnya ayahku meninggal pada perang
Uhud, dan meninggalkanku saudara perempuan sebanyak tujuh orang, maka dari itu
aku menikahi seorang wanita yang sekaligus dapat meenjadi pengasuh dan
pembimbing mereka”. Kemudian Rosululloh berkata : “Engkau benar insya Alloh”.
Keteladanaan Para Sahabat RA
Diantara para sahabaat yang paling menonjol keteladanannya adalah Abu bakar
as-Shiddiq RA, bukan hanya karena ia adalah satu-satunya sahabat yang mendapat
gelar as-sihiddiq, dan juga bukan hanya karena satu-satunya sahabat yang
menemani Rosululloh SAW dalam perjalanaan hijrah ke Madinah, akan tetapi lebih
dari itu karena Abu Bakar layak disebut sebagai “Murabbi hadzihil Ummah”
sepeninggalnya Rosululloh SAW , beliaulah yang memandu akidah dan fikrah para
sahabat yang lainnya ketika mereka masih belum legowo menerima berita wafatnya
Rosululloh SAW termasuk Umar bin khattab RA. Pada saat itulah Abu bakar
memberikan taujih tarbawy dengan membacakan firman Alloh SWT, dalam surat Ali
Imron : 144, seraya menambahkan penjalasan dengan kata – kata hikmahnya : “Man
kaana ya’budu muhamma dan fainna muhammad qod maata, wa man kaana ya’budulloha
fainnallaha hayyun laa yamuutu” (Barang siapa yang menyembah Muhammad
seseungguhnya Muhammad telah tiada, tetapi Barang siapa yang menyembah Alloh
SWT sesungguhnya Alloh Hidup dan tidak akan mati). Itulah keteladanan abu Bakar
dalan menyemai benih-benih tarbiyah, khusunya Tarbiyah Aqidiyah.
Ketika dua pertiga Jazirah Arab ditimpa oleh gerakan pemurtadan (Harakatul
Irtidad), dalam bentuk pembangkangan tidak mau membayar kewajiban zakat, maka
lagi-lagi Abu bakar RA tampil sebagai pelopor Murabbi dalam hal ketegaasan Amar
Ma’ruf Nahi Munkar untuk memerangi mereka, banyak para sahabat termasuk umar
bin Khattab RA masih beranggapan bahwa bukan itu jalan keluar untuk menghentikan
gelombang kemurtadan, maka Abu bakar langsung memberikan pelajaran kepada para
sahabat khusunya umar bil khattab RA seraya berkata : “ Hatta anta ya, Umar
ajabbaarun fil Jahiliyah Khawwarun fil Islam ?, Wallaahi laa Yanqushuddinu wa
anaa Hayyun, Lau mana’uuni ‘Uqqoolu ba’iirin yuadduunahi ila Rosuulillah
lahaarobtuhu hatta tansalifa saalifaty” ( sampai engaku juga Ya Umar, apakaah
engkau hanya tampak perkasa pada masa jahiliyah kemudian jadi ragu pada masa
islam ?, Demi Alloh tidak akan berkurang agama ini (Islam) sedikitpun selama
akau masih hidup, Walaupun mereka tidak memberikan hanya seutas tali unta yang
harus diberikan kepada Rasululloh, maka tetap akan ku pernagi mereka sampaai
urat leherku terputus”).
Bahkan keteladan Abu bakar sebagai Murabbi bukan hanya dengan kata-kata
tetapi juga langsung dibarengi dengan sikap dan tindakan kongkrit, agar menjadi
contoh bagi para sahabat yang lain, sebagaiman terjadi pada saat sebagian besar
para sahabat (Kibaarusshahabah) keberataan dengan diangkatnya Usamah Bin Zaid,
padahal hal itu telah menjadi ketetapan komando Rosululloh SAW sebelum
wafatnya, dan abu bakar berazam untuk tidak membatalkan apa yang telah
ditetapkan Rosululloh SAW, seraya mengiringi pelepasan ekspedisi Usamah dengan
meenuntun kudanya saampai perbatasan, sejak awal Usamah merasa tidak enak
karena Abu Bakar berjalan kaki sementara Ia berada diatas kudanya, lalu usamah
menawarkaan agar ia turun Abu Bakar saja yang naik kuda, lalu abu bakar berkata
: “Wallohi maa rokibtu wa maa nazalta, wa maa lialaa ughabbira qadami fi
sabilillaah” ( Demi Alloh, aku tidak mau naik dan engkau juga tidaak perlu
turun, biarkanlah kakiku bersimbah debu di jan Alloh )
Keteladanan Ulama Salafusshalih
Salah satu di antara mereka adalah Atho bin abi Rabaah Rahimahulloh, yang
memimpin halaaqah besar di masjidil haram, dimana Sulaiman bin abdil malik yang
menjadi Khalifah pada saat itu juga sering menghadiri halaqohnya, Athu bin abi
Rabah adalah seorang habsyi (Negro) yang pernah menjadi budak dari salah
seorang wanita penduduk kota mekkah, lalu ia dimerdekakan karena kepandaiannya
dalam mendalami ajaran islam.
Keteladanan Atho bin Abi Rabah sebagai Murabbi adalah kelembutannya dan
ketajaaman nasehatnya serta pandangan dan perhatianya yang penuh kasih sayang,
sebagaimana yang dikisahkan oleh Muhammad bin suqoh Salah seorang Ulama Kufah ,
bahwa suatu ketika Atho bin abi rabah menasehatinya : “Wahai anak saudaraku,
sesungguhnya orang-orang sebelum kita tidak menyukai pembicaraan yang
berlebihan”, “lalu apa batasannnya pembicaran yang berlebihan”? tanyaku, beliau
melanjutkan nasehatnya seraya beerkata : “Mereka mengkategorikan pembicaraan
berlebih, bila dilaakukan selain dari Al-qur’an yang dibaca dan difahami, atau
hadits Rosululloh yang diriwayatkan, atau berkenaan dengan amar ma’ruf nahi
munkar, atau pembicaraan tentang satu hajat, kepentingan dan persoalan
maisyah”, kemudian beliau mengarahkan paandangannya kepada ku seraya berkata :
“Atunkruuna (Inna ‘alaikum laahaafidzhiin, kirooman kaatibiin) (Al-infithar :
10 – 11), wa anna m’a kullin (‘minkum malakaini Anil yamiini wa ‘anisshimaali
Qa’iid, maa yalfidzhu min qaulin illaa laadaaihi raqiibun ‘atiid) ( Qaf : 17 –
18), Amaa yatahyii aahaduna lau nusyirat alaihi shahiifatuhullatii amlaa’aahaa
shdra naahaarihi, faawaajada aktsara maa fiihaa laaisa min amri diinihi walaa
amri dunyaahu”.
Kapabilitas takwiniyah Atha bin Abi rabah dalam mentarbiyah bukan hanya
kepada kalangan pembesar dan terpelajar tapi sampai seorang tukang cukur,
sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah : “Aku melakukan kesalahan dalam
lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur,
yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram, aku mendatangi salah seorang tukang
cukur, lalu aku berkata kepadaanya :”berapa harganya”?, “semoga Alloh menunjukimu,
ibadah tidak mensaratkan soal harga, duduk sajalah dulu, soal harga gampang”
jawab tukang cukur, waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia
mengarahkan duduku hingga menghadap kiblat, kemudian menunjukan bagian kiri
kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah
kanan, ketika aku dicukur ia melihaatku diam saja, lalu ia menegurku : “Kenapa
koq diam saja, ayo perbanyaklah takbir”, maka akupun bertakbir, setelah selesai
aku hendak langsung pergi, lalu ia berkata : “mau kemana kamu”?, “aku mau ke
kendaraanku” jawabku, tukang cukur itu mencegahku seraya berkata : “Shalat dulu
dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka” , Aku berkata dalam hati,
tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalu bukan dia orang alim, lalu aku
berkata kepadanya : “Darimana engkau dapati mengenai bebrapa manasik yang kau
perintahkan kepadaku’?, Demi alloh aku melihat Atha bin abi rabah mempratekan
hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar
kepadanya”, jawab tukang cukur alim tersebut.
Di antara kebiasaan baik ulama salafusshalih dan keteladanan mereka dalam
mentarbiyah adalah ketika memberikan materi mereka tidak terkesan bersikap
santai atau memberikannya sambil duduk bersandar misalnya, akan tetapi mereka
menunjukan sikap yang sigap dan penuh semangat, sebagaimana telah menjadi sikap
umum di kalangan mereka ketika menyampaikan materi, hal itu terungkap dari
pernyataan salah seorang diantara mereka : “Laa yanbaghi lanaa idzaa dzukira
fiinasshalihuna jalasnaa wa nahnu mustaniduuna” ( Tidaklah pantas bagi kita
ketika disebutkan di tengah-tengah kita orang-orang yang shaleh, lalu kita
duduk sambil bersandar ).
Adalah Said ibnul Musayyib rahimahulloh, juga seoarang murabbi yang
keteladanannya patut dicontoh oleh para Murabbiyyiin, beliau memimpin halaqoh
yang cukup besar di Masjid nabawi, di samping beliau juga terdapat halaqohnya
‘Urwah bin Zubair, dan abdulloh bin ‘Utbah rahimahumalloh, Said ibnul Musayyib
mempunyai seorang mutarabbi, namanya Abu Wada’ah, suatu ketika Abu Wada’ah
beberapa kali tidak datang halaqoh, tentu saja Said bin Musayyib merasa
kehilangan mutarabbinya yang sudah mustawa qowy ini, beliau kahawatir
kalau-kalau ketidakhadirannya lantaran sakit atau ada masalah yang menimpanya,
lalu beliau juga bertanya kepada ikhwah yang lainnya juga tidak ada yang tahu,
akan tetapi bebrapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah, datang kembali
sebagaimana biasa, maka sang Murabbi teladan said bin Musayyib segera menyambut
kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian seraya berkata : “kemana saja
engkau ya, aba wada’ah”?, “Isteriku meninggal dunia, sehingga aku sibuk
mengurusinya” jawab Abu wada’ah. “Mengapa tidak beritahu kami sehingga kami
bisa menemanimu dan mengantarkan jenazah issterimu serta membantu segala
keperluanmu” tanya Said kembali. “Jazaakallahu kahairan” jawab abu wada’ah yang
terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khwatir merepotkan
murabbynya.
Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan
membisikinya seraya berkata : “Apakah engkau belum terpikir untu mencari isteri
yang baru ya Aba Wada’ah”, “Yarhamukalloh, siapa orangnya yaang mau mengawini
anak perempunnya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim, fakir dan hingga
sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham” tandas Abu Wada’ah yang
tampaknya ingin bersikap waqi’ terhadap keadaan dirinya, “aku yang akan
mengawinimu dengan anak perempuanku” tegas said, seraya terbata-bata Abu
Wada’ah berucap : “ Eng,…engkau akan mengawiniku dengan anak perempuanmu,
padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku”, “Ya,…kenapa tidak, karena
kami jika seudah kedataangan seseorang yang kami ridho terhadap agamanya dan
akhlaknya maka kami kawinkan orang iyu, dan engkau termasuk orang yang kami
ridhoi” jawab Said meyakinkan mutarabbinya. Lalu dipanggilnyalah ikhwah yang
ada di halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikahnya dengan mahar sebanyak
dua dirham, Abu Wada’ah benar-benar terkejut tak tahu harus berkata apa, antara
kaget daan girang, ia pulang menuju rumahnya sampai-sampai ia lupa kalau hari
itu ia sedang shaum, karena di tengah perjalaanan ia terus berfikir darimana ia
akan menafkahkan isterinya, atau berhutang dengan siapa?, tak terasa ia sudah
sampai di rumah dan adzan maghribpun tiba, lalu ia berbuka dengan sepotong
roti, baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu,
“siapa yang mengetuk pintu”, tanyanya dari dalam rumah, “Said” jawab suara di
balik pintu yang sepertinya ia mengenalinya, setelah dibukanya tiba-tiba sang
murabbi sudah ada di hadapannya, Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu”
dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang Murabbi seraya berkata :
“Ya, aba Muhammad mengapa tidak kau untus sesorang memanggilku sehingga aku
yang datang menemuimu”, “Tidak, engkau lebih berhak aku datangi hari ini”,
setelah dipersilahkan masuk Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya
seraya berkata : “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi isterimu
sesuai dengan sari’at alloh SWT sejak tadi pagi, dan aku tahu tidak ada
seorangpun yang menemanimu, menghiburmu dan melipu kesedihanmu, maka aku tidak
ingin engaku bermalam pada hari ini disuatu tempat sedang isterimu masih berada
di tempat lain, maka sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu” ,
lalu said menoleh kee arah puterinya seraya berkata : “masuklah engkau ke rumah
suamimu wahai puteriku, dengan menyebut asma Alloh dan memohon barokahNYA”,
masuklah anak perempuan said , dan ketika melangkahkan kakinya nyaris
keserimpet (terinjak gaunnya) hampir jatuh hampir terpeleset karana saking
malunya, “sedang aku juga cuma berdiri di hadapanya kaget campur bingung tak
tahu harus berkata apa” kata Abu Wada’ah mengenang kejadian itu, tapi kemudian
ia cepat-cepat mendahului isterinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya
lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak
terlihat oleh isterinya. Baru setelah itu ia keluar rumah untuk mamanggil
ibunya untuk menemui menantu barunya.
Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul malik bin
Marwan Khalifah bani uamayyah yang ingin meminang putrinya, malah beliau segara
meengawinkan putrinya dengan Abu Wada’ah mutarabbinya yang sederhana dan tidak
diragukan lagi kualitas tarbiyahnya.
Subhanalloh,… ada ‘ngga ya, Murabbi seperti Said bin Musayyib rahimahulloh
di zaman sekarang ini?, kalau ada alhamdulillah, kalau belum ada mudah-mudahaan
selepas dauroh murabbi ini ada yaang berusaha meneladaninya. Amin Ya robbal
alamin.
Lain lagi kisahnya dengan Imam abu hanifah, atau dikenal dengan nama Nu’man
bin Tsabit rahimahulloh, beliau seorang murabbi yang wajahnya selalu enak
dipandang, berseri-seri, dalam penegtahuannya, manis tuturkatanya, rapih
penampilannya, dan selalu memakai wangi-wangian, jika beliau datang ke
majlisnya, maka semua orang yang ada disitu sudah mengetahuinya sebelum mereka
melihatnya lantaran semerbak wewangian yang dipakainya.
Di samping cerdas, alim, faqih, beliau juga dikenal sebagai Murabbi yang
dermawan, karena beliau juga dikenal sebagaai seoarang saudagar, tepatnya
sebagai pedagang pakaian, kain dan sutera, beliau berkeliling dari kota satu ke
kota lainnya di wilayah irak.
Suatu ketika salah seorang muridnya datang ketempat jualannya, ia minta
dicarikan baju, lalu beliau mencarinya, sesuai dengan warna yang dimintanya
lalu diberikan kepadanya, “berapa harganya ?”, tanya sang murid, “sedirham”
jawab Imam, “satu dirham” tegas sang murid lagi penasaran dan campur heran kok
murah banget, “ya, segitu”, tegasnya lagi, “yang bener nih…” kata muridnya
lagi, “Aku tidak main-main, aku beli baju ini dan yang serupa lagi dengannya
seharga dua puluh dinar emas dan satu dirham perak, yang satu aku sudah aku
jual, sedang yang siasanya ini aku jual kepadamu dengan harga sedirham, aku
memang tidak mau mangambil untung terhadap murid-muridku”.
Suatu ketika Imam abu hanifah melahat salah seorang mutarabbinya berpakaian
lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang, setelah yang lainnya keluar dari
majlis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majlis itu selain Imam abu
hanifah dengan mutarabbinya tersebut, lalu beliau berkata kepadanya, “angkatlah
sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya”, setelah diambilnya
ternyata uang sebanyak seribu dirham, “ambilah uang itu dan perbaikilah
penampilanmu’ tegas imam abu Hanifah, lalu kata orang itu : “Aku sudah cukup,
Alloh telah melimpahkan nikmatnya kepadaku, aku tidak membutuhkan uang ini”. Dengan
cerdasnya imam abu hanifah menyanggah omongan mutarabbinya itu : “Jika memang
benar-benar telah melimpahkan ni’matnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatanNYA
itu, bukankah rosululloh SAW bersabda : “Innalloha yuhibbu an yaraa aaatsara
ni’matihi ‘ala ‘abdihi” (sesungguhnya alloh SWT senang melihat bukti
keni;matannya pada hambanya), karena itu sudah sepantasnya engkaumemperbaiki
keadaanmu agar engkau tidak membuat sedih saudaramu”.
Itulah beberapa keteladan Ulama Salafussalih dalm mentarbiyah para mutarabbinya,
Wallohu ‘alamu bisshawaab.
Keteladanan Masyaikh Da’wah kita
Imam As-syahid Hasan al-Banna, figur murabbi yang satu ini sudah barang
tentu tidak asing bagi kita, juga bagi seluruh aktifis da’wah dan harakah
islamiyah di mana saja berada. Adalah pantas bila beliau merupakan salah
seorang sosok figur murabbi teladan abad.
Keteladanan Imam Hasan al-banna dapat disimpulkan dari pendekatan da’wahnya
ke berbagai lapisan masyarakat, prinsip-prinsip pendekatan da’wah yang
diisyaratkan dalam hadits Rosululloh SAW seperti : “khoothibinnaasa ‘alaa qodri
‘uqulihim”, “khotibinnaasa ‘ala lughati qaumihim” (Ajaklah berbicara kaummu
sesuai dengan kemampuan akal mereka, ajaklah berbicara kaummu sesuai dengan
gaya bahaasa mereka). Tampak sekali hal ini dilakukan oleh beliau dalam
menyemai benih-benih tarbiyah di tengah-tengah masyarakatnya.
Ketika beliau menetap di Ismailiyah, yang terkenal sebagai kota pelabuhan,
di mana banyak buruh-buruh pelabuhan menghabiskan waktu malamnya dengan
nongkrong di kedai-kedai kopi, dari sinilah beliau memulai da’wahnya, beliau
mengadakan pendekatan yang sangat hati-hati dan perlahan, beliau menyampaikan
hal-hal yang bersifat umum seperti ingat kepada Alloh dan hari akherat, tidak
konfrontatif, penyampaian da’wah dikemas dengan sederhana, diselingi dengan
bahasa ‘amiyah (pasaran), diselingi dengan cerita dan ilustrasi, dan lamanya
hanya sepuluh menit atau paling laama seperempat jam.
Al-Ustadz umar Tilmitsani Allohu yarham, menceritakan tentang sosok Hasan
al-banna sebagai Murabbi, bahwa halaqoh beliau yang kemudian dikenal dengan
“kuliah selasa” sangatlah sederhana, seluruh mutarabbinya duduk di atas tikar
putih, dan mereka disuguhi the dalam dua teko kecil, ini bukan karena beliau
kikir, karena memang hanyalah itulah yang dapat beliau sediakan.
Imam Syahid sangat lembut , suka bergaul dan mudah dekat dengan orang lain.
Beliau tidak pernah cemberut atau berpaling saat berbicara atau diajak bicara,
sikap santun selalu menyertai pergaulannya baik dengan orang dewasa maupun anak
kecil, bahkan beliau pernah memberikan ceramah di depan anak-anak sekolah dasar
Mahmudiyah yang terletak di daerah Abbasiah, beliau berdiri di tengah-tengah
mereka dan berbicara dengan mereka, seolah-olah belaiu bagian dari mereka.
Beliau berbicara dan menggunakan bahasa yang dimengerti anak kecil. Ketika
selesai beliau “dikeroyok” oleh anak-anak kecil tersebut seraya bergelantungan
di tubuh beliau, seolah – olah tidak ingin berpisah dengannya. Ini adalah buah
dari bahas lembut dan akhlak luhur yang tidak merasa risih dengan gurauan dan
celotehan anak-anak kecil.
Allohu Yarhamuhu, Al-Ustadz hasan al-Hudhaibi Mursyid ‘am II, juga
mempunyai keteladanan dalam hal mentarbiyah, diantaranya adalah kata-kata
hikmahnya seperti “Nahnu Dhu’at laa Qudhot” (kami mengajak bukan memvonis),
“Aqimiddaulata fii daarika taqum fii ardhika” (Tegakkanlah daulah di dalam
rumahmu maka kelak akan tegak di negrimu). Selain itu apabila ada anggota
Ikhwan yang bertengkar di hadapannya, beliau selalu mengucapkan perkataannya
yang terkenal : “Apabila kalian berdua tidak sanggup memperbaiki hubungan yang
ada di antara kalian, lalu bagaimana kalian bisa memperbaiki perselisihan yang
terjadi pada orang lain”?. Dan di antara do’a yang paling sering meluncur dari
mulut beliau adalah : “Ya Alloh pilihlah diriku menjadi hamba yang selalu taat
kepadaMU”
Sebagai seoarang Murabbi, Imam As-Syahid Hasan Al-Banna bukanlah tipe orang
yang kaku dan pelit senyum, sebagaimana diceritakan oleh Syekh umar Tilmitsani,
bahwa suatu ketika ia diundang untuk makaan siang di kantor pusat. Sambil
bercanda beliau berkata, “Hari ini kami jadi tukang masak, ayo makan siang
bersama kami”. Di lain waktu ia diajak oleh Imam as-Syahid menghadiri sebuah
acara, ketika makanan dihidangkan, ia melihat yang terhidang hanya telur goreng
dan keju yang kelihatannya sudah kadaluarsa, lalu ia membisiki beliau seraya
berkata : “Apaka anda mengajak saya ke tempat ini uuntuk membuat saya lapar”?.
Sambil tersenyum beliau menjawab : “Diamlah, Semoga Alloh melindungimu”. Lalu
beliau memanggil seorang akh, tak lama kemudian akh tersebut datang kembali
dengan membawa daging goreng dan buah anggur. Sunguh beliau tidak
memperlihatkan wajah yang tidak menyenangkan, meskipun Ustadz Umar tilmitsani
sedikit membuatnya repot.
Sebagai seorang Murabbi Imam As-Syahid tidak hanya bersikap baik kepada
kalangan ikhwah saja. Dalam suatu perjalanan beliau dengan sopirnya seorang
al-akh, menjumpai sebuah kendaraan yang mogok, beliau menyruh sopirnya
berhenti, lalu ia langsung turun dari mobilnya dan menanyakan apa yang dibutuhkan
oleh laki-laki pemilik mobil tersebut, ternyata orang itu kehabisan bensin.
Saat itu mobil belum ada klaksonnya yang ada hanya terompet terbuat dari logam
yang diujungnya ada gelembungan karet, nah dengan gelembungan kare itulah
beliau menuangkan bensin dari mobilnya dan beliau sendiri yang mengisinya ke
dalam tangki mobil tersebut, dan haal itu dilekuakn berkali-kali, beliaun
lakuak senua itu tanpa harus bertanya siapa, apa dar mmana dan agamanya apa
kepada orang yang ditolongnya tersebut. Orang yang ditolongnya itu kemusdian
berkata ; “Saya Muhammad Abdurrasul seorang hakim di kota Kairo, Anda
ini siapa”? Imam as-Syahid menjawab dengan sikap rendah hati : “Saya hasan al
banna, saya seorang guru sekalh dasar di As-sibtiyyah”. Orang itu kemudian
berkata lagi : “Apakah anda hasan al-Banna Mursyid Ikhwanul Muslimin?”, “Ya”,
jawab Imam as-syahid jujur. Sejak saat itu kemudian Ustadz muhammad abdurrasul
tampil sebagai salah seorang juru bicara Ikhwanul Muslimin, di tengah rimba
pengadilan. Inialah buah keteladan seoarang Murabbi yang tawaddu dan ikhlas.
Wallohu ‘alamu bisshowaab.

No comments:
Post a Comment