Pemuda ibaratnya
matahari, maka usia muda ibarat jam 12 siang. Di mana matahari bersinar paling terang
dan paling panas. Secara fisik, pemuda memiliki kekuatan yang lebih, memiliki
semangat, jiwa dan mental yang kuat.
Pemuda adalah pengukir
prestasi yang membanggakan bagi bangsa dan Negara, inilah jiwa pemuda. Jiwa
yang penuh semangat membara, hingga ketika seorang pemuda sudah tidak lagi
punya semangat, harapan, dan cita-cita dalam hidupnya maka sesungguhnya ia
telah menua sebelum ia tua. Imam Syafi’i pun berkata, “Tidaklah
mungkin orang yang punya mimpi dan bercita-cita besar hanya duduk berpangku
tangan. Tinggalkanlah kenyamanan maka kau akan menemukan gantinya karena
kenikmatan hidup didapatkan setelah kau melewati kelelahan".
Tidak bisa dipungkiri, berbagai amanah dalam kehidupan bermasyarakat
kita masih didominasi oleh orang tua, banyak faktor menjadi pemicu antara lain ketidak
siapan pemuda dalam mengambil peran itu sendiri ataukah tidak ada peluang bagi
generasi muda yang diberikan oleh orang tua yang masih beranggapan bahwa orang
tualah yang layak dalam posisi menjadi pemimpin sehingga peran para pemuda
masih sangat minimm dan belum dirasakan di tengah-tengah kehidupan
bermasyarakat.
Tak
dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998
telah mengantarkan kita pada suatu kehidupan yang lebih terbuka dan demokratis.
Para pemuda dituntut untuk lebih kritis dan
proaktif dalam mencari peluang memegang kendali dan arah kebijakan masa depan,
hadirnya pemuda dalam berbagai aspek kegiatan kemasyarakat telah menunjukkan
perubahan besar bahwa pemuda tidak lagi menjadi penonton, di Kota Bima sendiri
peran pemuda telah mengantarkan kepecayaan publik keranah yang lebih besar, perhelatan
dan iven-iven besar kini mulai di agendakan oleh tokoh-tokoh pemuda dalam
rangka menarik simpati ataupun meminimalisir kekosongan kaum muda dalam
beraktifitas.
Seperti
misalnya, sepak bola mini yang hampir tiap Kelurahan di adakan kaum muda dalam
menigisi Hari Sumpah Pemuda, Lomba Volly Ball antar Kelurahan/Desa
se-Kebupaten/Kota yang digelar Karang Taruna Kota Bima sebagai wujud nyata
peran Pemuda, dan beberbagai kegiatan lainnya yang hampir semuanya dihelat oleh
tokoh-tokoh muda yang inspiratif.
Hadirnya
Remaja Masjid Baitul Hamid Raba misalnya, kini menjadi icon perubahan besar
generasi muda Kota Bima dan satu-satunya Remaja Masjid yang keanggotaanya lebih
dari 60 orang yang kesemuanya aktif, tidak hanya dalam kegiatan internal
keremajaan mereka kerap kali menjadi garda terdepan dalam menyongsong perubahan
di tingkat Pemerintah Kelurahan Penaraga dan Kota Bima pada umumnya. Keberadaan
mereka pun menjadi barometer keberhasilan regerasi kepemimpinan masa kini.
Tidak
kalah juga, keberadaan pemuda yang tergabung dalam sebuah lembaga kemasyarakatan Team Siaga Bencana
Kelurahan (TSBK) di Kota Bima kemudian menjelma bersama dalam forum yang lebih
besar seperti Forum Team Siaga Bencana (FTSB) Kota Bima, ibarat busur panah
yang siap dilepaskan pemanahnya dalam berbagai kegiatan wal khusus mengurangi
resiko bencana yang ada, TSBK/FTSB telah memberi jawaban pada publik bahwa
kepemimpinan masa depan tidak semua berawal dari hal besar namun juga berawal
dari sesuatu yang kecil dan itu telah menempatkan mereka sebagai generasi
terbaik yang siap bertugas sebagai pemuda tangguh bencana.
.
Lantas pertanyaannya, generasi muda seperti apakah yang
ideal menjadi pemimpin masa depan? .
Sejarah telah mencatat
dalam tinta emas bahwa sebuah perubahan suatu bangsa tidak terlepas dari peran
pemuda, Sebagian besar kisahnya adalah kisah para Nabi. Kisah para
Nabi itu bukan ketika mereka telah menua, namun sungguh ceritera itu ditulis
indah dalam Quran ketika mereka muda.
Lihatlah ketika Ibrahim muda mengajak bangsanya berlogika untuk menemukan keesaan Tuhan yang di abadikan dalam QS. Al-Anbiya ayat 60 “Demi Allah, sesungguhnya aku
akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi
meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur
terpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari
patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.
Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan
kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata, “Kami
dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.
Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang
dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “Apakah
kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”
Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka
tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.
Lihatlah
juga kisah Ashabul Kahfi ”(Ingatlah)
tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka
berdo’a : ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan
sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
(Q.S. Al-Kahfi : 10)
“Kami
ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya
mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka (Sang
Pencipta), dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”.
(Q.S. Al-Kahfi : 13)
Tidak kalah menarik
ketika Allah mencertikan kisah Nabi Yusuf yang mendapatkan berbagai ujian dalam
hidupnya. Beliau menghadapi persekongkolan jahat yang justru datang dari
orang-orang yang terdekatnya, yaitu saudara-saudaranya. Mereka merencanakan
untuk membunuhnya. Rencana itu mereka buat saat Yusuf masih kecil. Kemudian
Yusuf dijual di pasar budak di Mesir lalu ia dibeli dengan harga yang sangat
murah. Kemudian beliau menghadapi rayuan dari istri seorang lelaki yang memiliki
jabatan penting. Ketika ia menolak rayuannya, ia pun di masukan ke dalam
penjara. Dalam beberapa waktu, beliau menjadi tahanan di penjara. Meskipun
mendapatkan berbagai kehinaan ini, pada akhirnya beliau mampu menduduki tampuk
kepemimpinan di Mesir. Beliau menjadi menteri dari raja yang pertama. Ia
memulai dakwahnya di jalan Allah SWT dari atas panggung kekuasaan. Ia
melaksanakan rencana Allah SWT dan menunaikan perintah-Nya. Demikianlah
kandungan dari kisahnya.yang di abadikan dalam QS. Yusuf sepenuhnya.Sahabat Ibnu Abbas pernah menyatakan, ''Tidaklah Allah
mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu
pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya.''
Bung Karno pernah berkata "Berikan aku 1.000 orang tua,
niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, Berikan aku 10 pemuda,
niscaya akan kuguncangkan dunia".
Berbagai kisah/syiroh
ini menjadi dasar bagaimana kita bisa melihat bahwa peran pemuda dalam
menyiapkan diri menjadi pemimpin yakni didasarkan pada pengetahuan agama yang
mumpuni, sehingga dengan kemampuan dan keyakinan yang kuat akan mengantarkan
pribadi yang kokoh dan tangguh dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga peran
pemuda sebagai pimpinan masa depan dapat terlihat dari diri seorang pemuda yang
membuat ia mampu disebut sebagai agent of change (agen
perubahan) dan agent of social control (agen pengawas sosial).
Saatnya kita munculkan generasi muda idaman berkarakter Ashabul Kahfi, berakidah Ibrahim, pecinta sifat-sifat mulia para Nabi. Dengan demikian, para pemuda dan pemudi mempunyai kriteria yang jelas dalam mengidolakan seseorang dan ia siap menjadi pemimpin masa depan, sehingga mereka tak lagi membabi buta dalam menentukan seseorang yang akan ditiru dan diikuti tingkah lakunya, mereka juga memiliki tameng yang akan menjaganya dari hal-hal buruh yang menggoda. Karena pada hakikatnya disisi Allah SWT mereka yang menjunjung nilai keimanan dan ketakwaan sajalah yang layak menjadi idaman setiap insan.
*Mahasiswa (Cand) Magister Manajement Inovasi UTS NTB

No comments:
Post a Comment