Dalam kehidupannya, manusia senantiasa terlibat dengan pengabdian. Apapun yang dilakukannya membutuhkan pengabdian ini, dapat kita ketahui dengan jelas dari seruan Allah dalam Al Qur’anul Karim “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi kepada-Ku.” (QS. 51 : 56). Jadi, hanya untuk suatu pengabdian sajalah tujuan Allah menciptakan manusia.
Karena itu bagi seorang muslim pengabdian
merupakan nilai yang sangat tinggi yang harus ditempatkan sesuai kehendak Allah
sebagai penciptanya. Tidak bisa dianggap ringan apalagi diremehkan. Pengabdian
dalam arti yang utuh dan menyeluruh, tidak sekedar pengabdian yang menjadikan
setiap sisi kehidupan diisi dan ditentukan oleh ajaran-ajaran Allah sebagai
Pengatur kehidupan ini.
Pengabdian yang menempatkan kita sebagai
muslim, sebagai hamba Allah yang siap untuk disibghoh (dicelup) oleh nilai
ilahiyah, sebagaimana firman-Nya : “Shibghoh
(celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada (celupan)
Allah? Dan hanya kepada-Nya kami mengabdi.” (QS. 2: 138)
SHIBGHOH ALLAH
Banyak ahli tafsir dan ‘ulama berpendapat,
yang dimaksud shibghoh Allah adalah Dienul Islam. Dalam kaitannya dengan
pengabdian yang utuh dan menyeluruh, maka ada beberapa hal yang harus dicelup
atau diwarnai oleh nilai-nilai Islam, selain pengabdian khusus yang telah
diketahui. Hal-hal tersebut adalah :
1. Aqidah
Aqidah
yang telah dishibghoh akan menumbuhkan motivasi (niat) yang ikhlash, sehingga
menjadikan pengabdian itu memiliki ruhul tauhid, membangkitkan semangat untuk
bergerak membela dan memperjuangkan Dienul Haq, Al-Islam.
2. Fikroh
Yaitu
wawasan atau cara berfikir, opini. Dalam hal ini harus pula dishibghoh agar
dalam mengemukakan fikiran-fikirannya, seseorang melandasinya dengan
nilai-nilai Al-Haq yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3. Syu’ur (Perasaan)
Perasaan
yang dimiliki manusia mempengaruhi arah pengabdiannya. Oleh karena itu syu’ur
(perasaan) seorang muslim harus pula dishibghoh, sehingga tercelup dengan
celupan Allah. Senantiasa berperasaan Islam, menyenangi apa yang disenangi
Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, berselera islami.
Seperti diketahui, seorang hamba harus
senantiasa mengikuti kehendak tuannya saja. Karena itu seorang hamba Allah
harus pula senantiasa mengikuti kehendak Allah. Baginya tidak ada kehendak
kecuali hanya mengikuti kehendak Allah, Rabbul ‘Alamin. Rumusan ini ditetapkan
Allah SWT dalam firman-Nya :
“Dan tidaklah mereka
berkehandak kecualai apa-apa yang dikehendaki rabbul ‘alamin) (QS. 81 :29)
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits nya :
“Demi diriku yang berada di
bawah tangan (kekuasaan)-Nya, tidak dikatakan seseorang itu beriman hingga ia
menjadikan hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang aku bawa.” (HR. Muslim).
Dengan uraian di atas jelaslah bahwa siapa
saja yang ingin menjadi hamba Allah yang istiqomah, tidak ada jalan lain baginya
kecuali mengikuti kehendak Allah, Rabbul ‘Izzati. Yang berarti siap mengikuti
apa-apa yang digariskan Allah di dalam Al Qur’an untuk kemudian diwujudkan
sebagai satu bentuk pengabdian tunggal dengan penuh keikhlasan untuk memurnikan
ketaatan kepada-Nya. Inilah yang dikatakan pengabdian istiqamah, pengabdian
yang tidak dikotori oleh cara-cara atau bentuk-bentuk pengabdian yang sifatnya
bathil, pengabdian yang melahirkan sikap istiqamah. Sahabat Abi “amrah Sofyan
bin ‘Abdillah ra. Bertanya kepada Rasulullah SAW : “Katakanlah kepadaku tentang
Islam, suatu perkataan yang aku tidak akan dapat menanyakannya kepada
seorangpun kecuali kepadamu. Jawab Rasulullah SAW : Berkatalah engkau aku telah
beriman kepada Allah, kemudian istiqomalah (dengan penderianmu itu). (HR.
Muslim)
Seorang hamba Allah yang istiqamah hanya
memberikan pengabdian, dedikasi atau darma baktinya kepada Allah, tidak kepada
selain diri-Nya. Ini sesuai janjinya kepada Allah di setiap upacara
pengabdiannya yang diabadikan Allah di dalam Al Qur’an :
“Hanya kepada-Mu lah kami
mengabdi dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan” (QS. 1:4)
Oleh karena itu, seorang muslim harus
benar-benar memahami apa arti pengabdian. Jangan sampai di dalam perjalanan
hidupnya ia salah menempatkan pengabdiannya yang akan membuatnya rugi di
akherat.
Pengabdian itu bukanlah untuk kepentingan
Allah, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena manusialah yang
berkeperluan kepada Allah. Hal ini ddijelaskan Allah dalam firmannya :
“Hai manusia, kamu fakir
(berkeperluan) kepada Allah. Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. 35 : 15)
Karena persoalan pengabdian adalah persoalan
yang sangat penting, maka di surat Al Bayyinah ayat 5 Allah SWT menegaskan
kembali persoalan ini. Pengabdian itu memerlukan dasar pelaksanaan yang jelas,
agar manusia itu tidak tergelincir dalam pengabdian yang salah. Penegasan Allah
itu adalah : “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali hanya untuk mengabdi kepada
Allah dengan mengikhlaskan ketaatan (pengabdian) kepada-Nya, sambil bersikap
hanil (lurus dalam bertauhid) …”
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa dasar
pengabdian itu adalah niat yang ikhlash dan arah pengabdian yang hanif,
sehingga pengabdian seorang muslim tetap dalam kerangka menegakkan dienullah
dalam keadaan bagaimanapun juga. Baik dalam keadaan berdiri (jaya), duduk
ataupun berbaring (jatuh), seperti firman-Nya :
“Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulul Albab), (Yaitu)
orang-orang yang berdzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk dan berbaring dan
mereka memikirkan kejadian langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Rabb kami,
tidaklah Engkau jadikan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, karena itu
hindarkan kami dari siksa api neraka.” (QS.
3:190-191)
Dengan niat yang ikhlash dan sikap hanif,
pengabdian kepada Allah akan mewujudkan sikap mental yang ihsan, sikap mental
yang ampuh untuk mengontrol segala sikap kita baik dalam perkataan maupun
perbuatan. Ihsan digambarkan Rasulullah SAW dengan sabdanya :
“… Kamu beribadah kepada
Allah seolah-olah kamu melihat DIA. Tetapi jika kamu tidak melihat DIA, maka
sesungguhnya DIA melihat kamu” (HR. Muslim)
Wallahu A’lam bish Showab.
By. Irman Bima
No comments:
Post a Comment