Problematika Ummat di Balik Pergantian Nahkoda

Bissmillahirrahmanirrahim

Puji-pujian
Shalawat
(Waqolaa’ idzon; menyebutkan ayat dan hadist sbg mukadimah)

Tiada wasiat yg paling mulia yg sering khotib sampaikan kpd kita semua melainkan wasiat mulia yaitu Taqwa
Karena sesungguhnya Taqwa adalah pondasi awal yg mengantarkan kita pada sebuah pengabdian kpd Yang Maha Kuasa, Taqwa juga melahirkan apa yg kita yakini dan apa yg kita ucapkan, karena Taqwa adalah bukti nyata dari keimnanan seorang hamba.
Inna aqramakum indallahi atskokum

Jama’ah Jum’ah yg di mulia Allah

Kita melihat kenyataan bahwa Indonesia ibaratnya sebuat kapal tua yg berlayar t’tahu arah, mungkin arahnya ada tapi sang nahkoda kita tidak bisa membaca, mungkin dia bisa membaca tapi tertutup hasrat yang membabi buta, Indonesia memang seperti kapal tua yg penumpangnya bermacam-macam, ada dari Sumatra, Kalimantan, Sabang sampai merauke bersatu dalam nusantara.

7 kali nahkoda bahtera negeri ini berganti
Dari pertama kita meneriakkan kata merdeka-hari ini kesejahteraan masih jauh dari harapan
Pemegang amanat semakin tdk bisa di percaya
Mereka semakin rakus merampas hak2 rakyat jelata
Berita politik yg menipu kita sudah menjadi santapan harian kita, tidak heran bahwa
Malapetakapun selalu menghantam negeri ini : angin topan, banjir, loncor, korupsi yg semakin tidak bisa dihentikan dan bermacam penyakit silih berganti merontokkan anak2 negeri
Orang2 lapar dan orang2 menganggur semakin tdk terhitung jumlahnya
Kemaksiatan dan tindak kejahatan sangat sulit dihentikkan
Rasa malu dan rasa peduli terasa semakin menjauh

Nahkoda pertama: sang proklamator bersama hatta membangun dengan semangat pancasila dan terkenal di kalangan wanita, ia pernah berkata mampu menggoncangkan dunia dengan 10 org pemuda… tapi itu tidak cukup membawa kita ke pelabuhan kesejahteraan

Nahkoda ke 2: 32 thn berkuasa datang dg program bernama pelita mendapatkan julukan bapak pembangunan, tapi itu bagi mereka, bagi saya tidak ada bedanya tidak ada, karena pembangunan dari dulu-hari ini tidak pernah merata.
Penumpang bersuara berakhir di penjara atau hilang dilautan tanpa berita.

Nahkoda ke 3: sang wakil yg naik tahta mewarisi pecahbelahnya masa orba belum sempat ia menjelajah samudra ia terhenti di tahun pertama, di banggakkan di Eropa di permainkan di Indonesia, Jerman dapat ilmunya kita dapat apa ? hanya antrian panjang nonton filmnya.

Nahkoda selanjutnya ke 4: sang kyai dg hati terbuka ia terhenti dalam sidang istimewa ketika tokoh-tokoh reformasi berebut istana.

Nahkoda ke 5: nahkoda pertama seorang wanita, ketika turun dari tahtanya banyak aset terjual

Nahkoda ke 6: memimpin 2periode 2kali juga ia disumpah di atas alqur’an tapi itu hanya awal cerita, cerita panjangnnya terpampang dibanyak media Lapindo, Munir, Century, Hambalang, kami menolak lupa.

Nahkoda ke 7: dari hasil evaluasi 100hari kerjanya ia sudah mecetus ekonomi liberal yang mencekik rakyat kecil, naik turunnya BBM meniggalkan harga kebutuhan masyarakat yg tidak kembali turun.

Pertanyaannya :
Adakah harapan dan asa di negeri ini ?
Mungkinkah Allah berkenan utk mencurahkan berkah dan rahmat-Nya
Apakh kita berhak utk berkuasa dan memimpin negeri ini ?
Pantaskah kita melayani org2 yg bosan dg janji2 para penipu ? setiap kali mereka berkampanye semua penuh dengan janji-janji yang entah kapan akan di realisasikan.

Padahal Allah telah mengingatkan

Yaa aiyuhalladzi na aamanu limatakuulu na ma la taf alun...

Wahai orang-orang yg beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yg tidak kamu kerjakan ?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yg tidak kamu kerjakan.
QS. Ash Shaff/61: 2-3

Jama’ah Jum’at yg di mulia Allah
Kemunduran yang saat ini terjadi pada bagsa kita yang notabenenya adalah pemeluk agama Islam terbesar tentu ada penyebabnya. Faktor-faktor penyebab ini pada dasarnya dapat dibedakan atas faktor internal dan faktor eksternal.


Faktor internal diantaranya adalah:
1.      Jauhnya umat Islam dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Dalam QS. Al-Furqan/25:30 Allah berfirman:
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimakumullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang mengacuhkan Al Qur’an ini ada 3 kemungkinan:
a.      Ia tidak membaca Al Qur’an.
Seorang muslim yang tidak membaca Al Qur’an padahal ia bisa membacanya dan jika ia tidak bisa membaca Al Qur’an lantas ia tidak berusaha untuk menjadi bisa, maka ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang acuh terhadap Al Qur’an.
b.      Ia membaca Al Qur’an namun tidak mentadabburinya.
Seorang muslim yang membaca Al Qur’an seharusnya mengalami peningkatan keimanan, yaitu bila ia tidak asal membaca saja. Firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal/8:2)

c.       Ia membaca dan mentadabburi Al Qur’an namun tidak mengamalkannya.
Seorang muslim baru dikatakan benar keimanannya terhadap Al Qur’an bila ia membacanya secara kontinyu, mentadabburinya sehingga bertambah pemahaman dan keyakinannya akan kebenaran Al Qur’an dan mengamalkan dengan sekuat tenaga apa-apa yang telah dibacanya.
Salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah akibat mereka mempelajari Islam hanya karena mereka mengikuti. Sehingga pemahaman yang adapun sekedar pemahaman ikut-ikutan (taqlid buta), bukan pemahaman yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Padahal firman Allah:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Israa’/17:36)
Terpecah belah karena ada perbedaan masalah furu’ seperti masalah fiqh madzhab, masalah jama’ah dan sebagainya, sampai merusak hubungan ukhuwah islamiyah. Tentu saja umat yang terpecah belah akan lebih mudah dikalahkan oleh musuh-musuh Islam.
Sudah saatnya bagi umat Islam untuk memperkuat kesatuan hati dan tali ukhuwah. Firman Allah:
“dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal/8:63)

2.      Adanya perasaan rendah diri dan tidak tsiqoh pada Islam.
Di antara umat Islam saat ini banyak yang tidak memiliki izzah Islam, merasa enggan untuk menunjukkan identitas keislamannya. Perasaan ini timbul karena melihat kondisi faktual umat yang saat ini cenderung berada “di bawah”. Padahal perasaan semacam ini tidak boleh menghinggapi seorang muslim, karena kondisi umat saat ini justru disebabkan karena umat Islam jauh dari pemahaman Islam yamg benar.
Bila kita belajar dari sejarah, maka akan tampak bahwa masa-masa kegemilangan umat Islam terjadi pada masa dimana mereka benar-benar menegakkan bangunan Islam pada dirinya dan masyarakat. Ketika itu Islam tampil sebagai peradaban, tidak ada yang menutupi cahayanya, sesuai dengan sabda Rasulullah:
“Al-Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaihi.” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya).
Izzah Islam harus bangkit pada diri tiap-tiap umat Islam, karena orang yang paling derajatnya di muka bumi ini sesungguhnya adalah orang-orang yang beriman. Firman Allah:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Imran/3:139)

3.      Adanya gejala taqlid dengan semua yang datang dari barat.
Ketika seorang muslim tak lagi memiliki izzah dengan keislamannya, maka mudah saja baginya untuk berkiblat pada sesuatu yang lain, yang datang dari luar Islam atau orang kafir sekalipun.

4.      Tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Padahal Islam merupakan agama yang menjungjung tinggi ilmu pengetahuan. Bahkan Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya QS. Al Mujaadillah/58:11.
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Keutamaan seorang ‘alim (ahli ilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah derajatnya.” (HR. At Tirmidzi)

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga….” (HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

Islam telah pula melahirkan para ilmuwan besar dalam sejarah, seperti Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averroes), Al Khawarizmi dan lain-lain.

Disamping faktor internal, terdapat pula faktor eksternal yang menjadi sebab mundurnya umat Islam, yaitu :
1.      adanya ghazwul fikri (perang pemikiran) dan harakatul irtidad (gerakan pemurtadan) dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Maha Benar Allah dengan firman-Nya:
“Orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…” (QS. Al-Baqarah/2:120)

Barakallohuwalikul fil qur’anil adzim wanafa’ni waiyakumbima fiihiminal aayaati wadzikrilhakim
Akuulukaulihadza wastagfirullahu
innahu huwassamii ul aliiim…

Khutbah Ke 2

Allah memberikan solusi untuk menyelesaikan problematika ini ? Diantaranya adalah:
1.      Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.”

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”
2.      Umat Islam harus menerapkan syari’at Islam dalam seluruh aspek kehidupannya.
3.      Mendidik generasi Islam dengan manhaj pendidikan yang syamil (sempurna) dan mutakamil (menyeluruh).
4.      Menyiapkan kekuatan semaksimal mungkin untuk menghadapi musuh (QS. Al-Anfaal/8:60)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
5.      Dengan perjuangan dan pengorbanan total.

Ingatlah saudaraku arah dan tujuan kita jgn berubah
Langkah harus semakin tegggap
Karena perubahan adalah kepastian
Bangkitkan semangaaat dan rebut setiap peluang
Jangan sibuk dg hal yg tidk penting
Lenyapkan keraguan dan yakinlah bahwa Allah pasti membimbing kita utk mendapatkan kebahagiaan yg hakiki.


Doa’

(cari sendiri ya gan ^_^ )

By. Irman Bima

No comments:

Post a Comment